Selesai
Penantianku telah usai, kau pulang. Tapi tidak dengan rasa yang dulu. Tak mengapa, melihatmu kembali lagi bagiku sudah sangat senang sekali. Oleh-oleh yang dibawanya adalah duka. Kini ku terjerat lagi, dan kau mencoba mengikat ku lagi. Kembali kudengar panggilmu, yang membuat hatiku bergetar. Aku mohon kepadamu jangan pergi lagi. Melepas rindu bersamamu, kau masih sama seperti dulu yang kukenal pertama kali. Hanya saja kini kau datang perasaan yang berbeda. Kau yang mengajariku apa arti kebahagiaan, kini aku mencoba memahami apa artinya menderita. Aku tak peduli apa kata mereka tentang kisahmu. Yang pastinya tugasku telah selesai. Menjagamu, menemanimu, dan menunggumu. Kiniku menyusuri liku hidupku, kau memberi warna dalam perjalanan hidupku. Sirami lah hatiku yang layu ini, agar kita bisa tumbuh bersama. Aku berharap kepadamu tolong jangan hilangkan rasa ini. Jangan khawatirkan aku disini, biarkanlah aku sendiri. Doaku selalu menyertaimu. Sekarang aku takut kehilangan mu lagi, aku tak mau merasakan kesunyian dan kesepian kesekian kalinya.
Hari demi hari telah kulewati, hingga ku terbiasa tanpamu. Jika kau ingin pergi lagi, bagiku tak mengapa. Aku merelakan pergi, tak ada bekal yang ku berikan, tak ada upah-upah yang ku berikan. Miskin sekali kata-kata ku ini, tak ada indahnya, tak elok, dan jauh dari kata bagus. Harus dimana lagi kan ku pinta. Biarkanlah kegagalan ini menjadi proses pendewasaan bagiku. Aku harus bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Nasi telah jadi bubur, tapi rasa bubur ini pahit sekali. Aku mencoba mencari ketenangan dalam hidup ini agar aku bisa kembali senang dalam menjalani hidup ini. Ingin rasanya aku beranjak dari tempat ini, tapi aku takut tak tau arah jalan pulang. Kalau dulu ada dirimu yang menjadi tujuan untuk pulang. Kini aku harus sendirian. Kau yang memintaku untuk membawamu untuk kembali, hanya saja aku tak cukup kuat untuk melakukan hal seperti itu.
Ternyata aku mampu menahan rindu terpendam didalam hatiku. Kini kau mencoba membimbingku ke kehidupan yang baru, menjalani lembaran baru. Aku seperti kehilangan diriku sendiri, karena ingin sekali memenuhi keinginanmu. Hidup ini yang selalu berlawanan. Ada siang dan malam, ada ramai dan sepi, ada kering dan basah, dan ada juga gemuk dan kurus haha.
Matamu yang ingin memandangku, telingamu yang ingin mendengar suaraku, bibirmu yang ingin berbicara kepadaku, hatimu yang ingin selalu menantiku. Apakah seperti ini dinamika dalam hidupku?. Berjuta kata caci maki tak mampu memberikan jawaban kekesalan ini. Ingin sekali kau coba rasakan tinggal sebentar saja bersamaku lupakan waktu. Agar kita rangkai bersama lagi angan-angan kita. Maafmu bukan berarti membuatku legah, melainkan kekecewaanku terhadap dirimu. Ucapan terimakasihmu juga tak ada artinya, jika kau akan pergi lagi dari kehidupanku.
Kini aku tak mampu medekap dirimu, dan tak lagi harus menjagamu. Jika kau memang yakin akanku maka janganlah kau ragu dan bimbang dengan keputusanmu. Percayalah kita berpijak pada bumi yang sama dan memandang langit yang sama. Kau tak perlu lagi menyalahkan dirimu. Biarkanlah semua ini aku yang menanggungnya. Agar diriku ini kokoh dari hempasan badai. Haii nona manis, aku bakal merindukanmu selalu, jaga dirimu baik-baik disana nanti, kurasa kau bisa bebas dengan tidak adanya hadirnya diriku disini, sekarang tak ada lagi yang membuat dirimu kesal. Kau adalah semangatku, kau adalah rindu ku, dan kau adalah kesekian kalinya merobohkan ambisiku. Tak ada pilihan lagi selain merelakan dirimu untuk pergi. Harus seperti apa lagi yang kan ku cari, dan harus darimana lagi aku memulainya. Jika aku diberikan keinginan pada hari ini, maka keinginanku adalah ingin bersamamu kembali.